Reacting to Amuba, The First Ever Queer Group Band in Indonesia

 


VICE Indonesia adalah salah satu channel Youtube bergenre dokumenter paling terkenal di Indonesia. Gue adalah salah satu subscribernya yang dari dulu suka banget nonton video-video mereka. Alasan utamanya pasti karena topik-topik video yang selalu menarik. VICE selalu berhasil mengambil angle informasi yang unik dan tabu, kemudian diubah menjadi sebuah informasi yang edukatif dan mendidik. Menurut gue, VICE adalah berlian diantara banyaknya konten sampah yang beredar di internet. Pembahasan yang mendalam, wawancara yang tajam, konten yang kritis, dan sinematografi yang juara menciptakan sebuah kanal Youtube yang sempurna.

Topik kali ini datang dari sebuah grup band waria pertama di Indonesia, Amuba. Amuba dibentuk dari seorang waria bernama Tamara di Yogyakarta yang mempunyai mimpi untuk memperjuangkan hak dan kedudukan waria dalam masyarakat sebagai seorang insan yang sama dengan wanita atau pria lainnya. Selama ini, waria selalu dianggap sebagai aib bagi masyarakat, mereka harus diusir dari tempat tinggalnya karena dinilai memberikan contoh buruk bagi anak-anak sekitar hanya karena mereka begitu mencintai dirinya sendiri. 

Amuba adalah sebuah organisme yang mampu membelah dirinya sendiri dan menciptakan organisme yang baru dari belahan tersebut. Tamara ingin menciptakan efek yang sama bagi para waria di Indonesia. Para waria diharapkan untuk bisa mencintai dirinya sendiri dan hidup sebagaimana mereka bahagia dengan rasa penuh percaya diri dan dihargai oleh warga sekitar. Semangat ini ingin ditularkan dalam diri waria-waria lainnya, layaknya amuba yang membelah dirinya. 

Menurut saya, hal ini adalah perbuatan yang sangat inspiratif. Terlepas dari polemik moral dan religi di Indonesia tentang apakah waria itu benar atau salah, saya merasa semangat Tamara untuk memperjuangkan martabat diri dan kaumnya adalah hal yang luar biasa. Semangat untuk membela diri dan memperjuangkan apa yang ia percaya adalah perbuatan yang baik sekali. Mengambil sebuah aksi nyata untuk membentuk sebuah komunitas waria dan bahkan menolong mereka secara finansial dan mental, seperti apa yang Tamara lakukan, adalah perbuatan yang sungguh mulia. Bukan hanya fokus kepada membela, tapi bahkan membentuk sebuah komunitas untuk bersama-sama belajar musik, menari, bernyanyi, dan sebagainya adalah langkah yang apik. Saya yakin, dengan keberadaan Tamara di Indonesia, akan ada banyak pejuang-pejuang dan pembela lainnya yang ingin pula melakukan hal yang sama untuk kaumnya. 

Comments