Mayor Jenderal Daan Mogot, Inspirasi Kota Tangerang


Mayor Jenderal Daan Mogot adalah seorang perwira tinggi pemimpin Akademi Militer Tangerang yang harus gugur dalam Pertempuran Lengkong, ketika umurnya baru saja menginjak 18 tahun. Beliau adalah alasan Kota Tangerang tetap berdiri tegak sebagai bagian dari Indonesia, sampai saat ini.

Mayor Jenderal Daan Mogot lahir pada 28 Desember 1928 di Manado dan wafat pada 25 Januari 1946. Mayor Jenderal Daan Mogot gugur dalam Pertempuran Lengkong ketika memimpin tarunanya untuk melucuti senjata pasukan Jepang.  

Saat itu, Akademi Militer Tangerang mendapat kabar bahwa tentara sekutu akan menyerang markas Jepang di Lengkong untuk mengambil alih wilayah Tangerang. Mendengar ini, para perwira akademi militer Tangerang tidak tinggal diam. Mayor Jenderal Daan Mogot, didampingi Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebianto, berangkat ke Lengkong para taruna menaiki tiga truk dan satu jip militer.


Semula, proses pelucutan berlangsung damai dan terkontrol. Namun, semuanya berubah ketika tiba-tiba terdengar suara rentetan letusan senapan. Tentara Jepang dengan cepat mengambil kembali senjata yang telah diletakkan dan mulai menembaki tentara Indonesia. Ditambah dengan jumlah yang tidak seimbang, tentara Indonesia dengan cepat dilumpuhkan. Sebanyak 33 taruna dan 3 perwira gugur dalam Pertempuran Lengkong. 




Saat ini, ada 48 pahlawan yang dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Taruna dan sebagian besar diantaranya adalah para pejuang Pertempuran Lengkong. Makam terletak di sebelah Museum Juang Taruna Tangerang. Di dalam Museum terpampang berbagai foto dan tulisan yang menceritakan tentang Pertempuran Lengkong dan perjalanan Akademi Militer Tangerang. Di dalam museum tersebut juga terpajang potret wajah para perwira dan taruna yang terlibat dalam pertempuran. Selain itu, sebuah tugu monumen berisi daftar nama para pejuang dalam pertempuran dan dua relief diorama yang menggambarkan kondisi pembelajaran Akademi Militer Tangerang kala itu, sebagai bentuk peringatan Pertempuran Lengkong. 


Kondisi makam sampai saat ini masih sangat terjaga. Secara rutin dilakukan pemugaran bangunan dan pembersihan berkala untuk area makam. Terlepas dari itu, sangat banyak instansi pendidikan dan sosial yang mengunjungi taman makam pahlawan taruna untuk melakukan ziarah dan pembersihan makam. Setiap tanggal 25 Januari juga diadakan upacara peringatan Pertempuran Lengkong di tempat ini. 


"Kami bukan pembangun candi, kami hanya pengangkut batu, kami angkatan yang mesti musnah, agar menjelma angkatan baru di atas pusara kami, lebih sempurna"

Comments